4 Istri Boleh, 4 Pilar Wajib. Kami Mau Semua-muanya!

Posted on Posted in Catatan Perjalanan (Jalan-Jalan), Curhat
Netizen dari Cirebon dan Indramayu ikutan bersekutu  demi isu 4 Istri

Seminggu lalu aku dikasih tau temen, kalau Blogger Bandung ngadain acara ngobrol bareng MPR. Berhubung katanya ngomongin soal 4 istri, jadi weh aku daftar.

“Serius ini tuh 4 istri? Mau bagi-bagi istri baru kitu?” pikirku. Maklum aku dapet beritanya sambil diiringi kegalauan isu Raisa mau dilamar Hamish Daud (yang terjadi beneran tanggal 21 Mei kemarin).

Tapi berhubung aku mahasiswa S2 Magister Administrasi Publik, aku sih seneng banget ikut acara beginian, demi wawasan tesisku tentang implementasi kebijakan publik tambah cespleng.

Ternyata acaranya bukan bagi-bagi istri baru, sodara-sodara. Curiga  acara keburu kecium oleh istriku (dan istri blogger lainnya) sehingga ada boikot massal atau emang akunya salah denger. Yang jelas ini acara bincang santai netizen Bandung ngobrol bareng MPR RI tentang 4 Pilar  — dan 4 istri.

Kepala Biro Humas MPR RI Ibu Titi (berdiri) ditemani Mbak Raras, Mas Andri, dan Kang Aswi

Di sini aku ketemu Bapak Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono, ditemani Ibu Titi, Ibu Raras, Mas Andri, dan Pak Purwadi dari Biro Humas MPR RI yang seru, lucu, dan keren. Mereka juga galau. Bukan oleh Raisa, tapi oleh fenomena media sosial belakangan ini yang lebih banyak berantemnya daripada mengisi pembangunan dengan hal-hal positif. Bukan tidak mungkin lho persoalan ini jadi salah satu faktor perpecahan bangsa.

Aku jadi inget waktu studi banding ke Thailand, meneliti implementasi kebijakan publik di sana. Rakyat Thailand tergolong adem di medsos, sementara pembangunannya pesat. Aku simpulkan, ini mungkin ada kaitannya. Jadi ketika rakyat tidak lagi sibuk ribut di medsos, mereka alihkan energinya untuk berkarya. Pemerintah pun  dapat faedahnya, di mana kebijakan yang dilahirkan tidak banyak di-“kontroversi”-kan.

Tapi itu mungkin gara-gara Thailand punya hukum Lese Majeste yang ketat. Lese Majeste adalah pasal yang melindungi anggota senior keluarga kerajaan Thailand dari hinaan ancaman. Siapa pun yang berani  mengkritik, apalagi menghina raja dan keluarganya, dijamin rumahnya pindah ke hotel prodeo. Tahun lalu saja ada penyanyi Thailand yang dihukum penjara 7.5 tahun karena divonis menghina raja. Malahan, ada orang yang sekedar nge-like hate speech-nya orang lain aja bisa dipenjara juga lho hiiy….

Dengan kata lain, kebebasan berbicara di sana dibatasi. Menariknya, China dan Arab Saudi yang pembangunannya maju juga menerapkan  aturan sama. Rakyat tidak bisa bebas berkoar karena hal itu kontraproduktif.

Kebijakan waterway di Bangkok sukses diwujudkan biarpun air sungainya kotor, hitam, dan bau. Di Indonesia, kebijakan serupa pernah digagas, tapi layu sebelum berkembang setelah banyak pro-kontra

Pertanyaannya, apakah kegaduhan di Indonesia kontraproduktif? Tiap orang pasti punya jawaban beda-beda. Kalau menurutku,  dari kacamata kebijakan publik, jawabannya  iya. Pakar kebijakan publik Edward III mengemukakan 4 faktor yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan, salah satunya komunikasi.

Komunikasi nggak melulu bagaimana penyampaian informasi antar lembaga terbangun dengan baik, tapi juga bagaimana pemerintah dan rakyat membangun komunikasi yang baik. Inilah yang kadang jadi pelik. Rambut boleh sama hitam, pikiran berbeda-beda. Selalu ada yang pro dan kontra. Pro-kontranya juga macam-macam. Ada yang rasional, ada yang emosional, bahkan ada yang apriori. Susah, memang. Ujung-ujungnya suatu kebijakan yang sebenarnya bagus, bisa aja gagal dijalankan gara-gara pro-kontranya terlalu nyaring sampai level berantem (tanpa adanya solusi).

Nah, kalau nggak mau susah, coba aja tuh resepnya Thailand, China, dan Arab Saudi. Sikat habis itu orang-orang yang ribut. Kalau perlu, hancurkan semua fasilitas internet di negeri ini!

Tapi ya aku nggak setuju gitu lho. Bisa pensiun dini nih jadi blogger kalau kebijakannya begitu. Aku yakin Indonesia bisa maju walau medsosnya gegap gempita. Yang penting ketemu formula yang tepat agar kegaduhan  berguna bagi kemajuan bangsa.

Paling enak tuh membangun negeri dengan formula yang udah jadi jati diri sendiri. Nggak usah nengok-nengok negeri lain, apalagi dengan membanggakannya. Soal perbedaan di Indonesia, udah ada dari sononya, Udah jadi semacam harga mati di negeri ini. Yang diributkan di medsos juga soal perbedaan, kan? Siapa yang gagasannya berbeda dianggap lawan, siapa yang gagasannya sama dianggap kawan. Terkotak-kotak seperti itu.

Zaman dulu, andai Soekarno, Hatta, Sjahrir, M. Rum, Jong Ambon, Jong Celebes, dan jong-jong lainnya punya medsos, pasti ributnya sama dengan kita. Tiap tokoh dan jong pasti punya pandangannya sendiri-sendiri waktu merancang bentuk negara. Berantemnya bakal nggak abis-abis, kecuali paket datanya abis.

Aku bareng Bapak Ma’ruf Cahyono. Asli, beliau down to earth banget. Asik diajak ngobrol

Untungnya para bapak bangsa lebih suka mencari kesamaan daripada perbedaan, hingga terbetiklah gagasan terkait Pancasila, Undang-Undang Dasar, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, yang kita kenal dengan istilah 4 Pilar, atau 4 Pilar Kebangsaan, atau 4 Pilar MPR. Keempatnya saling berkait satu sama lain, dan berasal dari sari pati kekayaan Nusantara (dari kearifan lokal hingga kearifan keagamaan).

“Akh, bosan kali ngomongin Pancasila mulu. Kayak zaman orde baru aja.”

Iya sih. Tapi bosan cuma berlaku bagi orang yang tataran pengamalannya masih sebatas  hapalan atau pemahaman (ciee bahasaku gaya).  Dalam psikologi dikenal dengan istilah kognitif, yakni hal yang berkaitan dengan kemampuan otak dalam berpikir rasional. Jika ke-4 Pilar itu cuma sebatas dihapal, dipahami, dan dinilai, ya jelas bosan.

Lain halnya kalau pengamalan sudah pada tingkat afektif dan psikomotorik. Afektif adalah hal yang berkaitan dengan rasa, minat, emosi. Ada perasaan memiliki betapa 4 pilar bukan basa-basi di sekolah atau seminar saja, melainkan juga bagian dari jati diri kita. Sedangkan psikomotorik adalah action-nya.

Sederhananya sih seperti ini. Ibarat kita tinggal di kos-kosan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang agama dan sosial, kita akan menganggap sepi aturan dari ibu kos tentang “jagalah kebersihan” kalau kemampuan kita sebatas kognitif. Tiap-tiap orang abai, lalu ujung-ujungnya berantem. Tapi kalau kemampuan kita naik level kepada afektif, kita pasti akan turut merasa memiliki kos-kosan tersebut sebagai bagian dari diri kita, hingga kemudian kita melakukan action dengan menjaga kebersihanny. Alhasil gesekan antar penghuni kos akibat perilaku jorok pun terreduksi.

Salam 4 Pilar!

Kesimpulannya, sodara-sodara. Mari jadikan Indonesia  lebih baik dengan modal jati diri kita yang sejati sebagai bangsa Indonesia raya. Jika kita sudah paham bahwa 4 syarat kebijakan  itu PERLU menurut Edward III, dan 4 istri itu BOLEH menurut agama. Maka 4 Pilar itu WAJIB menurut kebutuhan kita berbangsa dan bernegara.

9 thoughts on “4 Istri Boleh, 4 Pilar Wajib. Kami Mau Semua-muanya!

    1. Makasih udah mampir, Mbak. Abisnya kalo inget angka 4 pikiran saya suka ke situ. Untung cuma berani mikir. Kalo sampe berani berbuat bisa nggak dikasih pintu sama istri ha ha

    1. he he… saya juga ga nyangka “tagline” itu muncul. tiba-tiba keluar aja pas dikasih kesempatan kasih pertanyaan dan pernyataan. Makasih udah berkunjung ya, Mbak 🙂

  1. Judulnya lucuuuuuu! Jadi keinget-inget terus, Kang. Tagline blognya juga lucu wkwkwkwkwk 😀 Ngomong-ngomong saya baru tau 4 Pilar apa, perasaan dr jaman sekolah sering baca & denger ttg NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika. Tapi baru tau kalau semua disatuin dalam satu istilah: 4 Pilar.

    1. iya, zaman sekolahku juga kedengerannya istilah P4. Kalo istilah 4 pilar tuh baru ada sejak 2013 (kalo ga salah), hasil gagasan dari MPR RI waktu itu

  2. Waahh keren kang,, iya banget ini yg ditunggu, 4 istri boleh 4 pilar wajib, pas baca ternyata memang sangat menarik heheh

    1. Makasih udah nungguin, Mbak Liana he he…. dan makasih udah berkunjung. Tapi secara keseluruhan acara kemarin memang menarik, saya cuma kebawa suasana aja he he. Keren lah pokoknya para netizen di Blogger Bandung dan Pak Ma’ruf & kawa-kawan dari Bire Humas MPR RI 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *