Bandung Dikuasai Pidie Baiq

Posted on Posted in Catatan Perjalanan (Jalan-Jalan), novel

 

Dulu kalau pergi ke Bandung, aku selalu inget Dago, Gedung Sate, Masjid Raya, factory outlet, dan lowongan pekerjaan. Sekarang tambah satu, jadi inget Pidi Baiq. Padahal ketemu langsung aja belum pernah.

Pidi Baiq memang jahat kayak Rangga. Nggak pernah ngajak kenalan tapi Pidi ngenalin aku banyak hal indah tentang Bandung. Bukan sekedar kota yang bagi orang Subang/Cirebon Panturaan seperti aku perlu dikunjungi terus biar tidak lupa sama modernisasi.

Pidi mengubah pandangku tentang Bandung yang bukan sekedar “letak geografis”. Pidi mengajarkanku tentang romantika lewat kisah indah Dilan dan Milea. Pidi jelas bukan orang pertama yang mengusung Bandung sebagai lokasi kisah cinta. Aku juga pernah lha yauw, waktu nulis novel teenlit Target: Amore (2006) yang bersetting Jalan Sekeloa, Dipati Ukur.

 

Tapi Pidi memang dahsyat. Penggambaran Bandungnya seperti mesin waktu. Pidi kelihatan paham  Bandung, Pidi seperti menguasai Bandung. Gara-gara Pidi aku berubah. Kalau lewat Buah Batu, misalnya, aku nggak pernah lagi ngeluh tentang kesemrawutan tiada tara. Aku yang kegerahan mendadak menyublim, merasakan sejuknya saat-saat Dilan dan Milea melewati jalan ini di atas motor.

Aku ter-hara. Sebagai penghormatan pada Dilan dan Milea, kukunjungi Jl. Asia Afrika, tempat bersejarah di mana salah satu quote Pidi Baiq dimonumenkan.

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi,” bunyi quote itu. Mejeng mesra di dinding JPO/terowongan sejak April 2015  atau beberapa hari setelah perhelatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung.

Ada banyak orang yang asik selfie siang-siang. Nggak. Aku nggak mau. Masak foto siang siang seperti lainnya? Udah umum. Aku butuh untuk melakukan ikhtiar sedikit berbeda biar aura melankoliku tentang Dilan-Milea bisa tersampaikan lewat gambar itu.

Aku pilih waktu malam hari. Berdiri sejenak cari inspirasi di seputaran Jl. Asia-Afrika. Aku jongkok. Manyun. Menelengkan kepala, lalu kuabadikan foto-foto ini. Voila! Mungkin tidak sehebat karya fotografer profesional. Tapi ini bentuk penghormatanku untuk Dilan dan Milea. Dan tentu juga penghormatan untuk Bandung, yang menyimpan segudang romantika, dan Pidi Baiq.

 

 

 

Aku bersyukur bisa berada di Bandung hari itu. Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, 2-3 hari capeknya nggak ilang-ilang.

*Abaikan pepatahnya

2 thoughts on “Bandung Dikuasai Pidie Baiq

  1. dan bandung bagiku, tak hanya kata tapi sejuta cerita. haha

    sebagai seseorang yang lahir dan besar dibandung. rasa-rasanya terlalu banyak dipikirin sampe bingung mau komen takutnya malah kayak bikin postingan 😀

    1. tentunya orang Bandung mah akan punya lebih banyak cerita dan hal-hal asik untuk dilalui yah. Jadi iri he he….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *