VISIT TIDORE ISLAND – Mereguk Romantika Tidore dalam 6 Hari

Posted on Posted in Catatan Perjalanan (Jalan-Jalan), gerhana matahari, Lomba Blog

9 Maret 2016.  Kie Matubu tampak anggun disiram cahaya pagi. Ingatanku terlempar pada buku Nuku Pahlawan Tidore karya Sudharma KD yang kubaca waktu kecil (1990). Itu perkenalan pertamaku dengan Tidore. Aku terpukau pada kehebatan Nuku menghajar VOC. Waktu itu Nuku “belum sah”  dijadikan pahlawan nasional (1995). Aku bilang pada Ayah, “Aku ingin ke Tidore suatu saat nanti.”

Peta wisata Tidore. Sumber gambar : Ngofatidore.com

Sekarang Tidore ada di depan mata. Seharusnya aku datang menjemput mimpi. Tapi  jadwal (rombongan) terlalu padat, karena kami harus berburu gerhana matahari total di perairan Halmahera saat itu.

Aku mulai resah. Ketika gerhana terjadi, Kie Matubu makin menawan.  Sosok gelapnya bertengger sempurna dengan warna kaki langit serupa maghrib. Aku seperti tersedot ke dunia ajaib di mana siang dan malam bertemu dalam satu waktu.

Aku (dan istri) seusai berburu gerhana. Kami hanya bisa memandang keanggunan Kie Matubu dari jauh.

Kejadian itu menghantuiku sampai sekarang.

“Aku harus pergi ke Tidore tahun ini!” ujarku. “Aku ingin merasakan apa yang Nuku rasakan ketika melihat Tidore yang elok!” Maka kutuliskan semua hal yang akan kulakukan di  Tidore dalam durasi 6 hari.

DAY 1 : NUKU

Touchdown di Tidore
Aku tiba di Bandara Babullah, Ternate, pagi hari, langsung mencari kapal menuju Pelabuhan Rum. Kawan dari Ngofa Tidore Tour & Travel Team akan menemaniku. Aku tidak kenal wilayah ini, jadi kupinta bantuan pihak yang paham Tidore luar dalam. Tujuan pertamaku jelas: menziarahi makam Sultan Nuku.

Menapaki Jejak Peninggalan Nuku

Bagaimanapun Nuku adalah faktor utama aku rindu Tidore. Dia sosok paling populer dalam sejarah  Tidore. Nuku menolak campur tangan VOC yang menginginkan berdirinya negeri boneka. Nuku cerdik. Sejak kalah pada pertempuran pertama, Nuku atur strategi baru yang ditakuti lawan. Dia galang bantuan dari luar, yakni  Inggris dan empat raja di pulau-pulau Papua (Raja Ampat). Orang-orang menjulukinya Jou Barakati atau orang yang diberkati berkat kehebatannya.

Infografis NUKU. Sumber data : Wikipedia

Setelah berjuang lebih dari 25 tahun, Nuku merebut kembali Tidore pada 12 April 1797. Nuku hanya 8 tahun  memerintah, selanjutnya beristirahat tenang di pusara ini. Dia mewariskan Tidore yang damai. Semoga Allah SWT melimpahinya rahmat dan ampunan. Amiin….

Merindu di Kedaton Kasultanan Tidore

Selanjutnya aku mengunjungi  Kedaton, tempat tinggal para sultan dan keluarga. Letaknya di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Dahulu,  kadaton-kadaton dibuat sederhana saja, dari  ilalang yang mudah hancur. Sekarang  Kedaton berdiri megah, setelah terakhir hancur pada 1912. Aku membayangkan di tempat mulia ini Sultan Nuku menjalankan roda pemerintahan secara adil dan sejahtera.

Shalat berjamaah di Masjid Kesultanan

Aku juga  ingin merasakan khusuknya shalat jamaah di Masjid Kesultanan yang didirikan pada 1700 M. Tidore adalah negeri 1000 masjid. Kegiatan-kegiatan bersifat keagamaan dan pendidikan berpusat di sini. Aku pasti sangat senang jika mendapatkan sejumput wejangan dari alim ulamanya.

Masjid Kesultanan Tidore tempo dulu. Sumber gambar : Annienugraha.com

Hari sudah malam. Sebaiknya aku bermalam di  Soasio. Ini  ibukota Kesultanan Tidore. Perannya sangat penting dalam percaturan sejarah Tidore. Aku pernah melihat Soasio berkerlip-kerlip cantik ketika momen gerhana matahari.  Aku punya rekamannya. Biarpun kecantikan yang kumaksud kurang tertangkap kamera, tapi suasana pagi itu benar-benar magis.

DAY 2 : PERANG

Menggempur Benteng-Benteng

Kemarin aku melepas rindu pada Nuku. Sekarang giliran menggempur benteng-benteng. Ketika merebut kembali Tidore, Nuku dibekingi 79 kapal kora-kora dan 1 kapal Inggris. Kehadiran Inggris menunjukkan kekayaan alam Tidore menarik minat banyak pihak. Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, bahkan Jepang menunjukkan minat pada rempah di pulau ini.  Ada sejumlah benteng terdapat di Tidore, paling terkenal Benteng Tahula dan Benteng Torre.

Benteng Tahula dibangun Spanyol (sumber lain menyebut Portugis) pada awal abad ke-16, sejak 1610 sampai 1662. Ketika Spanyol hengkang pada 1707, Belanda sebagai penguasa baru ingin membongkarnya. Tetapi Sultan Hamzah Fahroedin mencegah, lalu mengusulkan agar benteng dijadikan tempat tinggal keluarga Kesultanan Tidore.

Benteng Torre. Sumber gambar : IG Annie Nugraha

Sedangkan Benteng Torre dibangun Spanyol (sumber lain menyebut Portugis) pada 1521 M di Kota Torre. Letaknya ada di atas bukit sekitar kawasan Kedaton Kesultanan Tidore.

Tugu Peringatan Kedatangan Bangsa Spanyol

Tugu ini dibuat oleh Kedutaan Besar Spanyol pada 30 Maret 1993 sebagai peringatan kedatangan bangsa Spanyol ke tanah Tidore. Waktu itu, Juan Sebastian Elcano menjadi orang Spanyol pertama yang menjejakkan kakinya di Tidore bersama armadanya pada  8 November 1521. Sebagaimana kedatangan bangsa Eropa lainnya, Juan Sebastian Elcano datang pertama kali untuk berdagang. Tapi lama-lama…..?

DAY 3 : BAHARI

Merasakan Pasir di Sela Jari

Cobalah tengok ke jendela pesawat sebelum pesawat landing di Bandara Babullah. Tidore terlihat cantik dengan garis pantainya yang putih membiru. Ada tiga pulau kecil tersohor yang bertengger di sisinya, yakni Pulau FailongaPulau Mare, dan Pulau Maitara.

Pulau Failonga. Sumber gambar : Instagram Visit.TidoreIsland

Aku pernah melintasi Pulau Failonga ketika menuju spot  pengamatan gerhana matahari. Terlihat mungil, tapi cantik sekali. Pasirnya putih, dan air lautnya jernih. Failonga termasuk salah satu spot terbaik untuk snorkeling. Spot ini wajib dikunjungi agar bisa merasakan bulir pasir putih meluncur di sela jari, atau berkejaran dengan “Nemo” dan “Dori” di sekitaran pulau.

Kalau ingin mengamati lumba-lumba, coba mendekat Pulau Mare. Aku pernah melihatnya satu ekor, melompat-lompat di dekat kapal, seakan menyambut hangat kami semua. Ketika hendak difoto, dia malah pergi. Akh, sayang sekali.  Dia pasti “belum siap” ngetop di medsos.

Sementara Pulau Maitara paling tersohor lantaran diabadikan di uang Rp1000 bersama Pattimura. Aku sempat mengabadikannya dari Pulau Ternate, hanya sayang hasil kurang maksimal. Tidorenya sedang tertutup awan. Nanti deh aku foto lagi, skalau ada rejeki ke sana.

Pulau Maitara dan Tidore yang tertutup awan. Aku harus ke sana lagi untuk mendapatkan gambar lebih baik

Tapi sebelumnya aku akan mengunjungi Pantai Ake Sahe di Pulau Tidore. Pantai ini unik sekali. Ada mata air panas yang keluar dari bebatuan, sisa aktivitas vulkanik di tempat itu. Padahal biasanya kita menemukan hal semacam itu di lereng-lereng gunung.

DAY 4 : ATAP DUNIA

Menuju Puncak Dunia

Tolong bangunkan aku pagi-pagi. Hari ini aku akan mendaki gunung legenda Kie Matubu. Tingginya 1730 Mdpl, hanya separuh tingginya Ciremai, gunung di kampung halamanku. Tapi pendaki mana pun tahu, jangan pernah remehkan gunung!

Kie Matubu dan Pulau Maitara dari kejauhan

Pendakian Kie Matubu dapat dilakukan melalui 2 jalur, yakni jalur Desa Gurabunga dan Desa Ladake. Aku akan memulainya dari Desa Ladake, karena aku ingin menyambangi Gurabunga setelah pendakian ini. Tiga jam perjalanan aku tempuh. Sawah, ladang, dan hutan semak kulalui sambil terengah. Tubuhku hampir menyerah andai tidak kulihat tanda bahwa aku sampai di puncak Kie Matubu. Aku langsung bersorak lantang, “To adao Rahe (Aku telah sampai)!” Ini bakal menjadi pencapaian terbesarku tahun ini.

Bermalam di Negeri di Awan

Sesuai janji, aku pulang melalui jalur Gurabunga. Aku ingin sekali mengunjungi Negeri di Awan, yakni Desa Gurabunga itu sendiri. Gurabunga ada di ketinggian 713 meter, dihuni hanya sekitar 80-an kepala keluarga.  Suhu di Gurabunga tergolong sejuk menjurus dingin. Gurabunga menjadi satu-satunya desa yang posisinya paling tinggi dibanding desa lain di Tidore. Aku jadi tidak sabar menantikan momen melihat pemandangan malam di sekitar Tidore dari  tempat ini.

DAY 5 : MAKAN BESAR

Dari Laut untuk Kacang Kenari

Berat badanku merosot drastis gara-gara mendaki gunung. Apalagi setelah turun dari Gurabunga aku sempat mengunjungi air terjun mahacantik Goheba di Desa kalaodi. Sensasi segarnya mengusir kantuk sedari subuh.

Gohu cakalang ditemani singkong dan pisang rebus. Rasa segar, gurih, dan tawar, berkolaborasi memberi cita rasa lezat

Sekarang aku lapar sekali. Aku harus makan makanan bergizi agar tidak sakit. Di Tidore banyak sekali makanan bergizi, karena Tidore kaya hidangan laut. Aku sudah mencoba ikan surihi sambal dabu-dabu. Rasanya lezat sekali. Aku juga pernah mencicipi gohu cakalang. Rasanya sangat segar. Aku sampai tak percaya ikan yang  kumakan terhitung mentah. Gohu cakalang serupa sashimi yang masih mentah. Aku pasti akan memakannya lagi dan lagi selama berada di Tidore. Ini makan besar. Ini pesta peningkatan gizi, dan akan lebih nikmat lagi jika dibarengi makan popeda, yakni sagu yang diberi air sehingga mirip lem kertas—tapi lezat dmakan.

Ada satu hal yang tidak boleh terlupa. Di Tidore—juga Ternate—banyak sekali kuliner yang memanfaatkan kacang kenari. Mulai dari kopi goraka, sampai jajanan basah yang penampakannya terlihat menggoda. Mungkin hanya sirup pala yang  tidak bercampur kacang kenari. Jika goraka cocok diminum hangat-hangat saat dingin, sirup pala cocok diminum dingin-dingin saat terik.

Jajanan pasar khas Ternate-Tidore. Sedapnya…

Jelaslah sudah. Sisa hari kelima hanya kuisi dengan pesta makan. Mari jo lupakan diet hari ini!

DAY 6 : PERAYAAN

Aku akan mengunjungi Tidore kapanpun kumau. Tapi satu hal penting, Tidore  tampil paling menawan saat bulan April. Pada bulan ini rakyat Tidore merayakan hari jadi Kota Tidore yang sudah berusia 900-an. Wajah-wajah bahagia terpancar di mana-mana. Orang-orang menari, menyanyi, dan mengekspresikan diri melalui pagelaran budaya luhur yang telah diwariskan turun temurun.

Tari Soya-Soya

Aku pernah menyaksikan tari peperangan Soya-Soya ditarikan anak-anak lincah. Indah sekali. Dan aku sangat ingin menyaksikan upacara adat Panji Nyili-Nyili. Perayaan ini dimulai semenjak subuh. Jalanan Tidore dipenuhi cahaya obor dari penduduk yang memadati jalan, juga dari bagian depan rumah yang dihiasi nyala obor. Suasana berlangsung khidmat dan meriah, di mana 10 panji kebesaran diusung, ditingkahi bermacam pertunjukan seni. Perayaan ini perwujudan semangat perlawanan pasukan Nuku saat perebutan Tidore dari VOC.

Aku juga ingin menyaksikan upacara Lufu Kie atau perjalanan laut mengelilingi Pulau Tidore yang dimulai dari Kedaton Kesultanan Tidore. Konon tradisi ini berasal dari kisah Sultan Tidore Syafiuddin “Jou Kota” yang menggelar armada perang untuk menakuti kompeni Belanda. Upacara ini dikemas dalam bentuk pelayaran ziarah di mana Kangunga Sultan (perahu kesultanan) dikawal oleh Juanga “Hongi Tuamoy se malofo”, yang berarti barisan 12 perahu kora-kora pengawal sultan.

Sumber foto: Instagram Annie Nugraha

Kembali ke Bandara Babullah

Pada akhirnya aku kembali ke bandara disertai wajah bahagia. Ini perjalanan yang sempurna, dengan puncak kemeriahan yang juga sempurna. Kulambaikan tangan kepada Tidore yang indah melalui  jendela pesawat terbang.

“Terima kasih, Tidore, atas pengalaman berharga ini. Kau hadirkan romantika yang sedang aku butuhkan.”

&%&

Nah, sudah kutulis semua rencana perjalanan ini dengan penuh harap dan impian. VISIT TIDORE ISLAND akan menjadi agenda perjalananku yang sarat akan makna. Dan aku yakin, pada saatnya nanti aku menyadari bahwa Tidore telah menjadi rumah keduaku, yang akan terus kudatangi lagi, lagi, dan lagi saat rindu telah siap untuk disemai.

Kiranya Allah SWT meridhoi ini. Amiin ya Robbal Alamin…..

Sumber gambar : Travelerien.com

SUMBER INSPIRASI :

  1. Annienugraha.com
  2. Ngofatidore.com
  3. Wikipedia.Org
  4. Pinginjalan.wordpress.com
  5. Tidorekota.go.id
  6. Travelerien.com

2 thoughts on “VISIT TIDORE ISLAND – Mereguk Romantika Tidore dalam 6 Hari

  1. Tidore emang keren banget. Pengen sekali berkunjung ke pantai pantainya seperti Maitara yang ada di uang kertas pecahan 1000 rupiah, lalu berenang sambil liat ikan ikan dan trumbu karangnya, pasti seru banget. Btw moga sukses ya artikelnya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *