Mengungkap Keberadaan Salad Asli Indonesia

Posted on Posted in Lomba Blog

Saya termasuk penggemar salad. Kalau datang ke restoran Itali, pasti pesan salad duluan. Soalnya enak. Campuran sayur, buah, agar-agar, dan kacang-kacangan yang disiram saus dan mayonais bikin lidah bergoyang manja. Salad tuh kesannya modern dan berasal dari budaya Eropa. Sampai-sampai saya mikir, nggak ada gituh salad khas Indonesia?

“Ada dong,” jawab istri saya.

“Oh ya?” saya antusias. “Apaan?”

“Semanggi.”

“Tanaman liar gitu dibilang salad?!”

“Eee, jangan salah ya. Semanggi itu kaya manfaat. Bisa dipakai buat mengatasi terlambat datang bulan, darah tinggi, flu-demam, bahkan sampai hepatitis dan radang tenggorokan!”

“Iya deh iya. Tapi di mana kita bisa dapatkan salad semanggi yang kamu banggain itu di sini? Ingat lho, ini kota. Bukan pedesaan yang masih bisa nemu tanaman liar kayak persawahan.

Istri berpikiran sama. Walaupun tidak semetropolitan Jakarta, Cirebon tetaplah sebuah kota.

“Bagaimana kalau kita hunting, cari keberadaan salad semanggi di sini?” ujarku.

“Wah, ide bagus tuh. Ayo!”

Dimulailah petualangan ini dengan “perlengkapan perang” lengkap, yakni : helem, sepeda motor, dan terutama handphone ASUS Zenfone, untuk dipakai sebagai alat dokumentasi perburuan.

Perburuan kami mulai dengan menyatroni pasar terpopuler Cirebon, yakni Pasar Kanoman. Entah kurang teliti atau memang tidak ada, yang jelas kami tidak menemukannya.

Kami hunting ke Pasar Keramat. Tidak ada juga. Kami hampir pada kesimpulan bahwa hidangan semanggi (atau semanggen kata orang Cirebon) mungkin sudah punah. Tapi saat kami coba mengunjungi Pasar Pagi, voila! Salad semanggi terhidang dengan manja!

Saking antusias, saya langsung beraksi memotret segala angle, membuat si ibu pedagang dan pembeli lain terheran-heran. Mungkin mereka piker, kok ada yah orang katro yang lihat semanggi langsung foto-foto. Yah, maklumlah, Bu. Buat orang yang mainnya kebanyakan di mal, liat kayak gini ya kampungan he he…

Untung handphone yang dipake keren. Dengan PixelMaster Camera-nya memotret jadi menyenangkan. Buat yang belum tahu, PixelMaster adalah aplikasi memotret khusus smartphone ASUS. Aplikasinya sangat lengkap dan komplet sehingga kita dapat bereksplorasi banyak hal dengan menggunakan berbagai macam mode. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dari gambar di bawah ini:

Tapi tak elok rasanya kalau menikmati semanggi dalam kemasan “default” yang disediakan oleh si ibu pedagang. Makanan “udik” seperti ini pasti bakal keren juga kalau dihidangkan dengan dressing ala restoran. Jadi, langsung deh kami bawa pulang semanggi itu untuk dipermak abis kayak penganten.

30 menit kami sibuk di dapur. Sat sit set….. voila! Beginilah penampakan semanggen yang sudah di-dressing abis. Cantik, kan? Lebih cantik lagi saat terbidik mata kamera handphone ASUS yang kami miliki.

Is that it?” kataku. “Apakah cuma semanggi yang bisa kita sebut salad?”

“Hmm, sebenernya kangkung juga bisa disebut salad Indonesia sih. Variannya malah banyak. Ada gado-gado, lotek, pecel, cah kangkung….”

“Ah, mana seru? Udah terlalu umum. Nggak ada petualangannya.”

“Kalau rujak dadakan Cibingbin….?” tawar istriku.

Seketika mataku berkilat, dan air liurku seakan menyodok ingin keluar.

“Ayo”” kataku. “Netizen seluruh Indonesia harus tau bahwa di wilayah III Cirebon ada salad enak bernama rujak Cibingbin!”

Kami melaju di atas kendaraan lagi. Kali ini langsung menuju ke kawasan kampus IAIN Syekh Nurjati, ke salah satu tempat penjualan rujak dadakan Cibingbin.

Disebut dadakan karena proses memasaknya mesti dadakan, agar kangkung yang dinikmati belum hangat dan belum keburu layu. Disebut Cibingbin pun karena menu salad ini pertama kali popular di kawasan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Tapi yang bikin istimewa adalah jenis kangkungnya yang berbatang tebal dan berdaun lebar, serta sambal yang digunakan adalah sambal pedas asam dengan level kepedasan yang WOW.

Lihat saja penampilannya. Pertama kali melihatnya, lidah langsung tergoda untuk mencicipinya. Begitu kangkung mendarat di lidah, sensasi hangat dan getas ala kangkung menyambar cepat bersama sensasi asam pedam yang luar biasa. Keringat langsung bercucuran. Tapi rasa puas langsung tersungging di wajah.

Jadi inilah hasil perburuan kami dalam satu hari dalam melacak salad warisan kuliner Nusantara. Tak terkira nilainya, dan tidak kalah rasa dan manfaatnya dibanding salad ala Eropa. Jangan malu dan menganggapnya ketingalan zaman. Asal kita mau sedikit mempercantiknya, hidangan ini tidak akan kalah cantik dari hidangan ala luar negeri.

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

8 thoughts on “Mengungkap Keberadaan Salad Asli Indonesia

  1. Ternyata di Cirebon juga ada Semanggi ya? saya tahunya di Surabaya, karena saudara di sana sering cerita seputar semanggi yang katanya makin langka sekarang.

    mendadak jadi ngidam rujak nih karena ngomongin salad. hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *