[Tentang Kehilangan] a tribute to My Soulmate

Posted on Posted in Curhat

Kehilangan ternyata menyakitkan. Walaupun (sekadar) kehilangan kendaraan roda dua yang sudah 8 tahun menemani. Tanganku sampai gemetar waktu terima uang dari pembeli. Nyatakah ini?

Ini jelas bukan sekadar kehilangan barang. Ini tentang kehilangan sahabat yang menyimpan rahasia suka dan duka sepanjang zaman. Ini tentang kenangan berharga…..

Tentang Kehilangan : Me and Red V-Ixion
Tentang Kehilangan : Red V-Ixion

Motor Cinta (dan Persahabatan)

Mungkin wajar kalau aku agak lebay. Ini motor pertama yang kubeli hasil cucuran keringat sendiri lewat nulis buku. Waktu itu aku masih warga “tempelan” Jakarta. KTP udah Jakarta, aslinya masih luar kota dan nggak punya sanak-famili di sini. Hidupku ngekos, tidak punya tanggungan apa-apa kecuali diri sendiri dan rasa cinta pada lawan jenis yang jatuh bangun tidak keruan.

Itu kenapa kubilang “rahasia suka dan duka”. Pertengkaran, kebahagiaan, kerinduan, perdebatan, kecemburuan, kadangkala terpampang nyata di depan sang Red V-Ixion. Andai dia bernyawa, sudah pasti dia banyak sekali menyaksikan kejadian-kejadian penting proses kematanganku dalam mencinta.

Maaf pada  istriku kukatakan ini, kenyataannya beberapa orang wanita pernah menumpang Red V-Ixion dengan status kekasih atau sekedar teman saja.

Di saat Jakarta terguyur hujan tidak hentinya, aku pernah mengantar kawan perempuan yang masih terjebak di kantornya padahal hari sudah malam.

Aku berniat mengantarnya pulang padahal Jakarta sudah diguyur hujan dari sore. Banjir pasti terjadi di mana-mana. Aku mengantarnya dari Lebak Bulus sampai Setiabudi via Kemang dan Mampang, kawasan biangnya macet dan banjir. Tapi lewat TB. Simatupang pun percuma. Mobil sudah hampir jalan di tempat di mana-mana.

Anehnya aku tidak merasa risau. Aku justru merasa nyaman, karena aku percaya akan baik-baik saja bersama Red V-Ixion di tengah bencana musiman ini.

Kalau dipikir-pikir, Red V-Ixion sudah menyertaiku di segala medan dan suasana. Hujan, panas, banjir, dan becek.

Saat harus digembok di kandang kambing demi dapat berita
Saat harus digembok di kandang kambing demi dapat berita. Catatan Perjalanannya klik SINI

Red V-Ixion juga pernah menjadi saksi bisu bagaimana cintaku berkubang pada hubungan tak direstui. Cinta yang terasa getir sepanjang jalan manakala perpisahan terjadi jus seusai petualangan kami ke bagian barat Bekasi. Seiring derai gerimis kala itu, seiring hati memagut tangis atas ketidakberdayaan melawan adat dan tradisi, hatiku tercabik-cabik oleh kegagalan.

Red V-Ixion meredam itu semua lewat deru mesinnya yang lembut dan asap knalpotnya yang nyaris tak berwarna. Red V-ixion menjadi selubung kala kujeritkan lara di tengah hiruk pikuk Jakarta. Aku merasa terasing di keramaian. Aku berkubang dalam kepedihan. Namun deru itu membisikiku agar tetap tegar. Deru itu mengabarkan bahwa aku tidak sendirian di belantara Jakarta ini. Bahwa aku masih memilikinya, Red V-ixion-ku.

Tokh, pengalaman paling menyenangkan terjadi bersama istri sendiri. Kawasan Cililitan, Jakarta Timur, hingga Kranggan, Kota Bekasi pernah jadi saksi aku tersesat berkali-kali ketika aku mengantarnya ke rumah sanak familinya—ketika masa penjajakan. Dia tertawa-tawa waktu itu.

“Kok bisa sih orang Jakarta tersasar di kota sendiri?” katanya.

Aku bilang, “Bagaimana aku bisa konsentrasi kalau membonceng wanita cantik? Pikiranku sudah keburu nyasar oleh pesonamu.”

“Huu…. Gombal!!”

Tentang kehilangan: Wife and R.V.
Tentang kehilangan: Wife and R.V.

Tapi aku yakin dia senang. Sama senangnya ketika kuantar dia ke tempat kerjanya di Majalengka. Ketika temannya bertanya siapa gerangan aku, dia tersenyum saja dengan wajah malu. Aih….. betapa cantiknya kau bidadari!

Saat pulang, aku langsung geber Red V-Ixion sambil bernyanyi riang menuju rumahku di Kabupaten Subang. Saat ban motor menjejakkan kawasan pesawahan menghampar di Jatitujuh, mendadak aku merasakan rindu. Aku berteduh sejenak di pematang sawah untuk menelepon (calon) istriku. Aku bilang aku rindu. Tapi dia lagi-lagi menyebutku gombal. Saksinya Red V-Ixionku bahwa aku tidak gombal, Istriku. Red V-Ixion kita, karena sejak itu kamu resmi menjadi anggota keluarga besar ini (which is aku, kamu, dan V-Ixion).

Red V-Ixion juga yang menjadi saksi bagaimana anak-anak kita tumbuh. Setiap deru yang terdengar di kala Maghrib, anak-anak terlihat riang. Itu pertanda ayahnya pulang dengan selamat. Ketika deru terdengar di Minggu pagi, mereka pun tampak riang. Mereka bersikeras memakai jaket karena yakin ayahnya akan mengajak jalan-jalan. Semua kita jalani bersama-sama Red V-Ixion.

Motor Penjaga

Red V-Ixion-ku tak ubahnya penjaga. Aku sering mendengarnya membisikiku agar tetap berhati-hati ketika kuarungi setiap jengkal jalan raya. Suatu kali aku tidak hati-hati. Ada sepasang motor bersenggolan 10 meter di depan. Satu motor satu oleng, lalu jatuh mencium aspal. Aku tidak siap, tak sanggup menghindar. Lalu….. JEDAKKK!!! Red V-Ixion nyangkut di motor yang rebah, sementara aku terpelanting jatuh dalam posisi koprol. Aku tidak merasakan sakit apa-apa. Aku justru cemas dengan kondisi Red V-Ixion. Aku segera cek, Alhamdulillah tidak ada kerusakan apa pun. Detik itulah aku merasakan sakit luar biasa. Siku tangan kiriku ternyata patah dan retak.

Aku mesti menepi tiga bulan. Rasanya kangen berat tidak jua tunggangi Red V-Ixion. Beruntung fisioterapisku bilang aku mesti menunggangi motorku lagi agar otot kiriku terlatih lagi saat menekan tuas kopling.

Maka inilah kita, Red V-Ixion. Bersama-sama lagi dengan statusmu yang naik kelas sebagai penjaga sekaligus asisten fisioterapis. Setiap cengkeraman tangan pada kopling menjadi ikhtiar agar tanganku kembali sehat sedia kala.

Jadi bagaimana aku melupakan jasamu, my soulmate?

Perjalanan ke Bukit Panembongan
Perjalanan ke Bukit Panembongan

Perjalanan Terakhir

Hari minggu itu, kita baru saja bercengkrama bersama untuk ke sekian kalinya, Kita baru saja kunjungi Bukit Panembongan yang memiliki medan cukup curam untuk kendaraan roda dua, apalagi roda empat. Tapi denganmu, Red V-Ixion, segalanya terasa mudah.

Sulit dipercaya kalau perjalanan ke Bukit Panembongan itu menjadi perjalanan terakhir kita. Pembeli itu datang sekonyong pada Senin sorenya. Dia serius menginginkanmu. Dia bahkan sudah menyiapkan uangnya.

Aku memang berniat menjualmu sejak tahun lalu karena satu dan lain hal. Tapi aku tidak mengira perpisahan ini terasa sangat emosional. Separuh jiwaku seperti ikut tercerabut seiring berakhirnya kebersamaan kita. Mataku panas, hidungku mendadak sengau. Kenangan indah itu harus berakhir sampai di sini, dan hanya akan menjadi kenangan indah yang tidak akan tercetak baru lagi bersamamu.

Bukit Panembongan
Perjalanan terakhir: Bukit Panembongan

Maka maafkan aku telah menjualmu.

Maafkan aku masih sayang padamu.

Maafkan aku terlalu sentimentil padamu.

Tetapi terima kasih atas segala momen indah yang kau habiskan bersamaku.

Kau terbaik dan terindah.

Selamat jalan….

 

Hara Hope

novelist, blogger, space traveler

5 thoughts on “[Tentang Kehilangan] a tribute to My Soulmate

  1. Kadang kita bisa sebegitu lekatnya ya pada barang yang kita miliki, sehingga ketika melepasnya pun serasa seperti ada yang hilang dari tubuh kita, seolah ia bernyawa. Ikutan sedih nih mas bacanya 🙁

    1. Iya, kata pepatah, kita baru tahu nilasi sesuatu/seseorang kalo da udah pergi dari sisi kita. Makasih Masbro udah mampir 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *