Nikmatnya Shalat Gerhana di atas Kapal Bakamla

Posted on Posted in Astronomy, Catatan Perjalanan (Jalan-Jalan)

Gerhana Matahari Total 2016 sudah lewat. Tapi kesan-kesannya masih membekas sampai sekarang (dan semoga nggak akan terlupa walau tua nanti beranjak pikun ha ha). Satu hal paling berkesan adalah nikmatnya shalat gerhana di atas kapal Bakamla.

Menilik ruang kemudi kapal Bakamla

Waktu itu, aku, istri, dan rombongan Laskar Gerhana Matahari Total detikcom bertolak ke perairan Tidore dari pelabuhan Ternate agar dapat spot paling dahsyat di sana. Kami menumpang dua buah kapal milik Bakamla, yaki KN. Gajah Laut dan KN. Kuda Laut.

Tanpa hujan tanpa angin, Mbak Gelies dari detikcom menghampiriku.

“Hara, mau ya jadi imam shalat gerhana di atas kapal,” ujarnya.

“Oke,” jawabku cepat.

Tapi detik berikutnya aku gelagapan. Lha aku kan belum pernah jadi imam shalat gerhana. Gimana ini?

“Emang apa bedanya dengan solat sunah lainnya?” tanya istriku.

“Kurang lebih sama sih, cuma dua rakaat. Tapi rukuknya ada dua untuk setiap rakaat. Nah, itu dia masalahnya. Bagaimana kalau aku kelupa dua ruku itu, jadinya malah bablas aja kayak shalat dhuha? Udah gitu, shalat gerhana kan disunahkan baca surat yang agak panjang. Masak baca surat ‘kulhu’ doang?”

Istri ketawa. “Ya, diingat-ingat dong biar jangan lupa.”

Beberapa saat kemudian, digelarlah sajadah di bagian atas kapal. Pemandangan bagian depan bikin mata seger; terlihat air laut dan Pulau Tidore di kejauhan. Pemandangan bagian belakang yang bikin horor. Tampak para jemaah yang terdiri dari Laskar Gerhana, kru detikcom, para peneliti BMKG, kru KN Gajah Laut yang notabene TNI AL, dan komandan Bakamla. Heladalah…. mesti bener nih solatnya, biar nggak tengsin.

Ya suds, bismillah saja. Kalau niatnya baik, insya Allah hasilnya baik.

Shalat gerhana di atas kapal. Foto courtesy Hendro Pranyoto

“Allaaahu akbar,” aku pun menyerukan takbiratul ihram. Ayat demi ayat Al-Fatihah lancar kukumandangkan, demikian halnya surat Ash-Sharh, surat yang lebih panjang dari ‘kulhu’ yang kuingat, sekaligus doa agar kegiatan pengamatan gerhana ini diliapangkan (Ash-Sharh berarti melapangkan). Tiba giliran rukuk, alarm tubuh langsung bunyi supaya akukemudian tubuh berdiri lagi membaca Al-Fatihah dan surat lainnya. Horeee…. tidak salah gerakan!!

Yah,kuakui pada rakaat pertama belum beneran khusuk. Tapi saat shalat menginjak rakaat kedua, kekhawatiran yang menguasai benak mulai sirna. Berganti dengan suasana syahdu yang terasa begini nikmat di jiwa. Inilah, ya Allah, cara kami mengangumi kebesaran-Mu. Cara kami mengagumi keindahan benda langit ciptaan-Mu. Tanpa sadar kami menangis, betapa kerdilnya kami dibanding keindahan itu, sementara kami sering alpa untuk mensyukurinya.

Maafkan kami, ya Allah, atas kealpaan kami.
Dan terima kasih atas segala keindahan-Mu ini.

Laskar Gerhana Matahari Total detikcom di depan kapal Bakamla. Foto courtesy detikcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *