#WonderfulEclipse, Bulan Madu Tiada Taranya

Posted on Posted in Astronomy, Catatan Perjalanan (Jalan-Jalan), Lomba Blog

#WonderfulEclipse, bulan madu tiada taranya….

Judul di atas sangat miris, karena aku tidak pernah mengajak istri bulan madu sekali pun! Ini menyedihkan….. Padahal keinginan istri sederhana saja, hanya ingin ke Kepulauan Seribu. Dia sering mendengar tentangnya, buah perjalananku bersama kawan-kawan klub astronomi kala bujangan. Dia ingin memastikan betapa indahnya langit tanpa distorsi cahaya Jakarta, sunrise di pagi hari, juga laut yang membiru.

Dan aku tidak pernah mampu mewujudkannya….

Detik-detik GMT atau #WonderfulEclipse 2016

Kenyataan itu terus menghantui, terlebih saat kami tak lagi tinggal di ibukota. Dia terlihat sedih, hatiku hancur berkeping-keping.

Kuputuskan diam-diam mengumpulkan dana bulan madu. Target dua tahun ke depan saat gerhana matahari total (GMT) atau solar eclipse 2016. Tidak ke Kepulauan Seribu tapi ke lokasi yang dilewati eclipse 2016.Perhitungan sementara, butuh 10 juta untuk perjalanan dan akomodasi kami berdua. Jumlah yang sebenarnya sedikit untuk ukuran tabungan berdurasi dua tahun.

Tapi malang tak dapat ditolak, laptop–senjataku mencari nafkah–mati total. Aku mesti beli gantinya. Rumah pun bocor dan mesti direnovasi. Segala pembayaran kuambil dari tabungan rahasia.

Ini blunder. Menurut “kepercayaan orang tua”, jika tabungan sudah diniatkan untuk keperluan tertentu, jangan dicairkan untuk keperluan lainnya. Atau hartamu perlahan-lahan akan habis. Percaya tidak percaya, itulah yang terjadi. #WonderfulEclipse 2016 di depan mata tapi tabungan rahasia berangka nol besar! Saya tertegun. Kesempatan langka, haruskah musnah begitu saja? Bagaimana kupertanggungjawabkan cinta ini, jika rencana bulan madu yang tak terlupakan saja tidak mampu diwujudkan?!

Halaman depan Fort Orange, benteng terbesar di Ternate

Tubuhku diam tapi benak berkelana. Aku mencari jalan, begadang setiap malam. Aku insomnia berat, ketika mendengar suatu media online mengadakan lomba berhadiah tiket nonton gerhana. But it’s worth it, you know. Di hari yang cerah itu, aku memberanikan diri menghadapi istriku.

“Istriku sayang,” kataku. “Ayo bulan madu. Aku dapat tiket nonton eclipse 2016!”

“Sungguh?! Ke mana?”

“Ternate!”

Istri malah tertawa.

“Kenapa? Ada yang lucu?”

“Aku cuma terlalu bahagia,” ujarnya. “Itu kan cita-citaku sejak dulu. Aku sangat ingin menghabiskan waktu bersamamu di pulau ‘terpencil’ sambil menyaksikan benda langit kecintaanmu itu, yang juga membuat aku jatuh hati padamu.”

“Walau bukan Kepulauan Seribu?”

“Ini jauh lebih baik dari Kepulauan Seribu, Sayang!”

Akh, lihatlah derai renyah itu. Pemecah kesedihan ulah suaminya yang bebal. Firasatku, derai itu kian rekah jika kami tiba di Ternate nanti.

Danau Ngade, tampak indah dari jendela pesawat.

Benarlah adanya. Pesawat masih mengudara, kami disuguhi lansekap luar biasa hebat. Gunung Gamalama dikepung lautan, diuntai hiasan danau laguna kehijauan. Itulah Ternate, Sayang. Tanah pengantin yang diperebutkan  Portugis hingga Belanda.

Sekarang aku tahu kenapa pulau ini digilai banyak bangsa. Pemandangan indah, rempah-rempahnya melimpah. Kami cicipi sirup buah pala, rasanya cetar membahana. Demikian juga ikan bobara sambal dabu-dabu, popeda, gohu, kopi goraka, dan nasi kuning cakalang yang kaya rasa. Orang Ternate pintar betul manfaatkan hasil buminya!

Masih Danau Ngade. Di latar tampak Maitara dan Tidore, yang ada di uang kertas Rp1000,-

Pantas saja banyak benteng peninggalan di sini. Portugis ataupun Belanda kadung tersihir pesonanya hingga enggan pergi setelah singgah.

Momen puncak kami tentu saja Eclipse 2016. Kami menumpang kapal Bakamla menuju titik pengamatan di Selat Tidore. Kami dengar dari kawan seantero Indonesia, pengamatan di beberapa lokasi tertutup awan kelabu. Kami harap-harap cemas di sini. Kami lihat air laut bergerak tenang, dan awan berarak tipis-tipis terang. Kami tersenyum lega.

Hari-H terlihat cerah. Awan justru berkumpul di Pulau Halmahera di kejauhan

Then this is it. Momen spektakuler perlahan terjadi. Rembulan melakukan konjungsi terhadap matahari. Sinar putih kekuningan tercaplok, piringan matahari terkikis setahap demi setahap. Lalu alam seketika gelap gulita. Fase gerhana matahari total telah sempurna. Kami berdua tersengat oleh ketakjuban. Kami seperti terlempar ke ruang hampa udara, di mana hanya kekosongan dan bintang gemintang yang menjadi teman.

Lihatlah! Matahari tampak anomali! Bagian tengahnya bolong oleh kegelapan. Tidak jauh darinya,  Venus dan Merkurius mencuri kesempatan untuk tebar pesona. Tidak ada benda terang lain kecuali ketiganya. Aku tergugu dalam keajaiban. Kami menangis haru, dan berucap “subhanallah” tiada hentinya. Ini berkah yang tidak ternilai! Ini berkah dari Allah SWT. Pantaslah kami begitu inginnya melaksanakan shalat gerhana tadi. Karena segala hal yang kami dapatkan sekarang begitu pantas untuk disyukuri….

Pemandangan “malam” saat Eclipse 2016. Merkurius tidak tertangkap kamere

“Aku pasti merindukan momen ini,” kataku. “Terima kasih mengalaminya bersamaku, istriku.”

Kami saling berpandangan dalam binar kebahagiaan. Kukecup keningnya, lalu kami jatuh dalam pelukan sayang.

Terima kasih, Allah, dari kami berdua. Inilah, #WonderfulEclipse, bulan madu tiada taranya…..

 
Me and my wife di atas kapal bertalarkan Gunung Gamalama/Ternate

Hara Hope
novelis, blogger, stargazer

8 thoughts on “#WonderfulEclipse, Bulan Madu Tiada Taranya

    1. sungguh? hmmm… karena terlalu banyak gambar juga apa ya? baru bikin soalnya, lom tahu kelemahan-kelemahannya he he….. makasih, Kang Ben.

    1. Amiin…. tahun ini giliran kamu yang ke sana, ke Tidore sekalian Ternate. Emang bagus tempatnya. Bikin kangen ha ha.. Have fun ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *